Story 3: Our Fairytale

dyo

Title: Out Fairytale

Main Cast:

  • Do Kyungsoo (EXO)
  • Im Yoogom
  • Oh Sehun (EXO)

Genre: Fluff & romance

Length: Ficlet

Request dari TeethRich

Author’s note: Hai TeethRich! Terima kasih sudah mengikuti event ini. Semoga suka sama scenario di bawah! Hehehe.

Sekedar info untuk teman-teman yang gak tau event dari Vankyu kemarin, jadi di anniv Kyuhyun yang ke-8 Vankyu buka request fanfic untuk para reader. Cerita di bawah berupa ficlet, jadi setiap cerita yang di post akan berbeda tergantung dari request reader kemarin. Untuk reader lain yang udah request, jangan takut karena idenya sudah ditampung dan akan dipost secara satu-persatu. Jadi sabar menunggu giliran ya 🙂

Selamat liburan untuk semua reader! ❤

ANOTHER STORY: (1) (2)

Do not copy, share, or print this story without Vankyu permission!!

ENJOY!

*************

            “Sudah kubilang bahwa pertunangan ini tidak akan terjadi!” teriak seorang gadis. Kedua orangtuanya hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan putri mereka satu-satunya.

            “Kau sudah pernah bertemu Kyungsoo kan? Ayah kira dia adalah laki-laki yang baik untukmu. Lagipula keluarga mereka sudah sangat dekat dengan kita dan seperti keluarga sendiri. Terserah kau mau berteriak berapa kali pun, pertunangan kalian akan tetap dilaksanakan dua bulan lagi.” Yoogom menghela nafas keras. Percuma bertukar argumen dengan kedua orangtuanya karena sudah dipastikan siapa yang akan menjadi pemenang. Cuma satu orang yang bisa mengerti dirinya. Gadis itu menekan tombol di ponselnya dengan kasar dan mengirim pesan kepada sahabatnya. Dia benar-benar harus keluar dari rumah ini supaya tidak menjadi gila.

************

            “Ya! Kenapa kau datang ke rumahku malam-malam begini? Kau kira ini tempat bermain yang bisa kau datangi semaumu?” ujar Sehun sambil melemparkan tatapan mematikan ke arah sahabatnya. Yoorom tidak menggubris teriakan pria itu dan berbaring di atas tempat tidur Sehun.

            “Aku bisa gila jika berada di rumah itu. Kau tahu kan kalau kedua orangtuaku dengan seenaknya menjodohkanku dengan seorang pria? Mereka benar-benar tidak waras,” ujar Yoorom dengan penuh emosi.

            “Setidaknya aku tahu darimana kau mewarisi sifat gilamu,” jawab Sehun yang dibalas dengan lemparan bantal dari Yoorom.

            “Pokoknya aku akan kabur dari rumah jika mereka tetap bersikeras menjodohkanku dengan pria burung hantu itu!” Sehun menaikkan satu alisnya.

            “Pria burung hantu?” tanya pria itu.

            Yoorom menganggukkan kepalanya, “Iya, matanya sangat besar seperti burung hantu. Kulitnya sangat putih, bahkan melebihi aku. Rambutnya halus sekali hingga tak terasa jika kau menyentuhnya. Benar-benar menyeramkan.”

            Sehun tertawa saat mendengar sahabatnya mendeskripsikan calon suaminya. “Aku yang salah, atau memang kau yang terdengar seperti memujinya? Benar-benar menyeramkan atau… benar-benar menggemaskan?” Yoogom menendang sahabatnya dan tanpa sadar kedua pipinya memerah.

            “Sudahlah! Tidak penting membahas dirinya, yang paling penting adalah kau mau membantuku kabur di hari pertunanganku nanti. Sehun-ah kau adalah sahabat terbaikku, jadi bantu aku ya?” ucapnya sambil melemparkan tatapan memohon. Pria itu menganggukkan kepalanya dan merangkul Yoorom dari samping. Apapun akan ia lakukan untuk kebahagiaan sahabat perempuannya yang aneh itu.

*********

            Pagi ini matahari bersinar dengan teriknya, sangat berbeda dengan wajah gadis yang tertekuk saat ini. Hari itu Yoogom akan berangkat bersama Kyungsoo untuk memilih gaun untuk hari pertunangan. Hal pertama yang gadis itu tulis di daftar bencinya adalah gaun. Ia tidak suka memakai sesuatu yang tidak nyaman, rok dan gaun adalah salah satunya. “Yoogom ayo cepat turun! Kyungsoo sudah menunggu,” teriak ibunya dari lantai bawah. Dengan geraman pelan, gadis itu melangkah keluar kamar dan menghampiri ibunya. Seorang pria berdiri di samping ibunya. Sesaat kedua pandangan mereka terhenti, ada sedikit detak tak beraturan dari jantung gadis itu. Yoogom menggelengkan kepalanya, dan mengusir pikirannya yang tidak-tidak.

            “Selamat bersenang-senang. Kyungsoo jaga Yoogom baik-baik dan kau,” telunjuk ibunya menunjuk ke arah Yoogom, “bersikaplah yang manis.” Gadis itu memutar bola matanya dan segera melangkahkan kaki keluar dari rumahnya.

            Di dalam mobil, tidak ada satu orang pun yang ingin memecah kebisuan. Masing-masing sibuk dengan pikirannya. Aneh dan canggung sekali untuk dua orang yang akan melaksanakan pertunangan dalam waktu kurang dari tujuh hari lagi. Sesampainya di butik, Yoogom mengedarkan pandangannya ke arah tumpukan gaun-gaun.

            “Ya! Aku tidak pernah membeli sebuah gaun. Kau harus membantuku,” bisik Yoogom di telinga Kyungsoo. Pria itu memandang Yoogom dengan alis terangkat dan berlalu meninggalkan gadis itu sendirian.

            “Benar-benar pria menyebalkan!” bisik gadis itu kesal. Untung saja ada pegawai butik yang membantunya memilih gaun. Paling tidak ada lima gaun di tangan Yoogom yang akan dia coba.

            “Aku akan mencoba gaun ini satu-persatu dan kau harus membantuku memilih mana yang terbaik,” ucap gadis itu kepada Kyungsoo. Pria yang diajak bicara hanya bergumam dan tidak berpaling dari majalah yang ia baca. Sekali lagi Yoogom ingin mencekik pria itu.

            Setelah mencoba beberapa kali dan hanya mendapat respon lirikan atau gelengan kepala dari Kyungsoo, Yoogom mulai putus asa. Pokoknya ini gaun yang terakhir, jika pria itu masih tidak setuju, Yoogom memutuskan akan lari dari butik ini dan pulang ke rumah.

            Gadis itu menatap pantulan cermin dengan tidak percaya. Malu untuk mengakuinya, tapi dia merasa jatuh cinta dengan gaun yang ia kenakan saat ini. Yoogom keluar dari ruang ganti dan menghampiri Kyungsoo. “Ini gaun yang terakhir, apa kau menyukainya?” tanya gadis itu dengan pelan.

            Pria itu melirik sejenak dan membulatkan kedua matanya. Ada sedikit pertentangan dalam pikirannya, gaun itu yang terlalu cantik atau perempuan yang memakainya? Terlihat begitu memukau. Pipi Yoogom memerah melihat respon dari Kyungsoo. Pria itu berdiri dan berdehem pelan. “Tidak terlalu buruk. Cepat beli gaun itu dan kita pulang,” ucapnya sambil berjalan keluar dari butik.

            Yoogom menggigit bibir bawahnya. Ada sedikit rasa kecewa dalam hatinya. “Ya! Apa yang kau pikirkan Im Yoogom! Jangan bilang kau menunggu pujian dari pria itu? Aissh benar-benar bodoh.”

**************

            Tibalah hari pertunangan. Yoogom berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya. Jantungnya berdetak tidak karuan. Ia tidak ingin keluar dari kamarnya dan bertunangan dengan Kyungsoo, namun ada sedikit kebimbangan jauh di dasar lubuk hatinya. Ponsel gadis itu berbunyi memecah pikirannya.

            “Yoogom-ah, bagaimana? Kau jadi kabur dari pertunananganmu atau tidak?” teriak Sehun dari dalam ponsel.

            “Aku tidak yakin Sehun-ah,” jawab gadis itu pelan.

            “Aku bersama adikmu sudah menyiapkan tangga di depan balkon kamarmu. Kita berdua menunggu di bawah, cepatlah turun. Sekarang waktunya atau semuanya terlambat.”

            Yoogom panik dan bingung. Apa yang harus ia lakukan? Kabur dari pertunangan adalah ide yang luar biasa, tetapi apa ini yang benar-benar ia inginkan?

            “Jangan pergi.” Sebuah suara menghentikan langkahnya. Dengan pelan, tubuh gadis itu berputar dan menatap Kyungsoo yang berdiri di depan pintu kamarnya. Tidak ada lagi yang bersuara, hanya terdengar langkah kaki pria itu yang semakin mendekati Yoogom.

            Dengan jarak beberapa centi dari wajahnya, Yoogom baru menyadari binar indah dari bola mata pria itu, dan betapa ingin dirinya untuk menyentuh wajah Kyungoo yang seputih porselen.

            “Jangan kabur dariku, Im Yoogom.” Suara indah pria itu seakan menyentuh kulitnya yang meremang.

            “Kenapa?” tanyanya dengan suara sangat pelan. Mata gadis itu tidak sanggup untuk menatap Kyungsoo. Sebuah jari halus mendarat di dagu Yoogom, menaikkannya hingga kedua mata gadis itu menatap tepat bola mata hitam milik Kyungsoo.

            “Aku tahu kisah kita tidak berawal dengan semestinya. Aku juga tahu kalau kita belum saling mengenal. Bagaimana bisa dua orang asing bersatu dan membentuk hubungan sehidup semati. Tetapi, aku punya keyakinan bahwa kita bisa merubah segalanya. Aku dengan senang hati akan memberikan kesempatan untuk kisah ini. Kisah ini tidak akan berakhir bahagia jika tidak ada kau di sampingku. Maka dari itu Im Yoogom,” Kyungsoo menatap dalam-dalam mata gadis itu dan menautkan jari mereka menjadi satu, “Maukah kau membantuku menulis cerita kisah ini hingga selesai?”

            Yoogom menahan nafasnya saat mendengar perkataan yang keluar dari bibir pria di hadapannya. Seakan bernafas bukanlah hal yang penting sekarang. Dirinya tidak tahu harus melakukan apa dan berkata apa, tetapi ucapan Kyungsoo adalah tawaran yang memikat. Gadis itu menganggukkan kepalanya. Sebuah senyum indah tercetak di wajah keduanya.

            “Ya Yoogom-ah! Kau jadi kabur atau tidak?” Gadis itu membulatkan matanya, lupa akan keberadaan Sehun dan adiknya di bawah sana.

            “Mianhae, Sehun-ah. Pertunangan ini akan tetap berlangsung. Lebih baik kalian berdua masuk dan menikmati pestanya hahaha.” Kyungsoo menggelengkan kepala melihat tingkah calon tunangannya. Mereka berdua pun melangkah keluar kamar dan siap menghadapi orang-orang di luar sana.

            Tiba-tiba tangan Kyungsoo menahan Yoogom. Gadis itu berbalik bingung dan mendapati pria tersebut melemparkan senyumnya yang indah. “Terima kasih karena telah memberiku kesempatan. Aku tidak akan mengecewakanmu.” Sulit untuk tidak tersenyum jika kata-kata manis tersebut ditujukan untuk dirimu. Yoogom menggandeng lengan Kyungsoo dan menariknya menuju ruang pesta. Dia yakin pilihannya kali ini adalah pilihan yang paling tepat.

-SEKIAN-

Advertisements

12 thoughts on “Story 3: Our Fairytale

  1. nahhh makanya sebelum masuk kejenjang yang lebih serius harus saling mengenal lebih dulu kan pesona kyungsoo bisa meluluhkan niat buruk yoogom

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s