I Know You Want Me Too

SEXY L

Title: Story 9 : I Know You Want Me Too

Main Cast:

  • Kim Myung Soo  (L) – Infinite
  • Heo Jung Hwa

Genre: angst

Length : One Shot

Request dari Pandadeer

Author’s note: Hai Pandadeer! Terima kasih sudah mengikuti event ini. Semoga suka sama scenario di bawah ya! Selamat menikmati kesedihan Myung Soo :p

Semoga kalian tetap mau bersabar menunggu scenario-scenario berikutnya 🙂

Sekedar info untuk teman-teman cerita di bawah berupa ONE SHOT, jadi setiap cerita yang di post akan berbeda dan tidak bersambung, tergantung dari request reader kemarin. Untuk reader lain yang udah request, jangan takut karena idenya sudah ditampung dan akan dipost secara satu-persatu. Jadi sabar menunggu giliran ya  🙂

ANOTHER  REQUEST STORY: (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)

Do not copy, share, or print this story without Vankyu permission!!

ENJOY!

*************

*Author POV*

Ting tong! Suara bel terdengar saat Jung Hwa menaruh daging terakhir di atas piring. Hari ini adalah ulang tahun kekasihnya, Lee Sung Yeol. Sebagai kekasih yang baik ia mengadakan pesta kecil-kecilan yang hanya dihadiri oleh sahabat-sahabat terdekat. Ting tong ting tong ting tong! Perempuan itu menggelengkan kepala sambil tersenyum, membayangkan wajah kekasihnya sekarang yang menunggu dengan tidak sabar di balik pintu. Setelah merasa cukup puas dengan tatanan meja makan, ia melepas celemeknya dan berlari kecil menuju pintu.

“Bisakah kalian berhenti merusak bel rumah-“ ucapan gadis itu terpotong saat sepasang lengan kekar melingkari pinggangnya dan dengan mudah memutar tubuhnya di udara.

“Kenapa lama sekali membuka pintunya? Aku sudah merindukanmu,” teriak Sung Yeol sambil memajukan bibirnya manja. Jung Hwa tertawa dan memukul bahu kekasihnya tersebut.

“Turunkan aku sekarang juga, Lee Sung Yeol, atau kau tidak akan mendapatkan kue keju favoritmu.” Sung Yeol tersenyum kecil dan memberikan kecupan singkat di bibir gadisnya sebelum menaruh tubuh mungil Jung Hwa kembali menginjak tanah.

Perlakuan Sung Yeol mendapatkan protes keras dari enam orang yang berada di belakangnya. “Bisakah kalian tidak menunjukkan adegan mesra di hadapan anak kecil,” ujar Dong Woo sambil menutup mata Sung Jong.
“Ya! Aku bukan anak kecil,” ucap Sung Jong marah.

“Tetap saja kau adalah yang terkecil di antara kami,” senyum lebar tercetak di wajah Dong Woo yang kemudian melangkah masuk ke dalam rumah bersama Sung Yeol. Sung Jong mengikuti kedua hyungnya dengan wajah merengut.

“Hai Jung Hwa, aku membawa pesananmu,” ucap Hoya sambil menunjukkan tiga kotak pizza yang dibawa untuk cemilan saat menonton film nanti.

Jung Hwa memeluk Hoya singkat dan menunjukkan kedua jempolnya. “Kau memang yang terbaik Hoya oppa. Bisa kah kau menaruh pizza itu di atas meja, tapi jangan biarkan Sung Yeol oppa menyentuhnya,” bisiknya. Woo Hyun dan Sunggyu memberikannya pelukan singkat serta menanyakan apakah butuh bantuan untuk menyiapkan makan malam yang dibalas gelengan lembut dari gadis itu. Semua orang telah berkumpul di ruang makan, kecuali satu orang. Jung Hwa memutar badannya untuk menghadap kepada satu orang terakhir yang berdiri di depan pintu. Ia memantapkan hatinya dan mencoba untuk tidak merasakan apa-apa.

Kim Myung Soo berdiri di hadapannya dan memberikan tatapan intens khasnya tanpa diikuti oleh senyuman. Pria itu memang selalu terlihat tampan di mata Jung Hwa. Penampilannya malam ini membuat gadis itu hampir tercekat, tetapi dia dapat mengontrol detak jantungnya. “Hai Jung Hwa,” ucap Myung Soo. Jung Hwa memberikan senyum tipisnya untuk pria itu sebelum mengangguk kecil.

“Ayo masuk Myung Soo oppa.” Gadis itu ingin mengutuk dirinya saat suara yang dihasilkan pita suaranya terdengar bergetar. Myung Soo menatap gadis itu dengan matanya yang tajam. Dalam hati pria itu, ia mengenali suara Jung Hwa yang sedikit bergetar. Keduanya terdiam sesaat, hingga terdengar suara teriakan Sung Yeol dari ruang makan.

********************

Makan malam berjalan ricuh seperti biasanya. Sung Yeol dan Dong Woo tidak berhenti menggoda Sung Jong, jika Woo Hyun tidak menengahi mereka mungkin anggota termuda tersebut sudah melemparkan kentang ke arah mereka berduat. Hoya dan Sunggyu membicarakan film apa yang sebaiknya mereka tonton sehabis makan malam, genre romantis, horror, atau komedi. Sung Jong mengusulkan film komedi yang kemudian diikuti oleh ledekan dari orang-orang kalau dia terlalu takut untuk menonton film horror. Jung Hwa menikmati hangatnya suasana di meja makan, hingga tidak menyadari sepasang bola mata yang menatapnya dingin semenjak satu jam yang lalu.

Myung Soo tidak pernah berhenti memperhatikan satu-satunya gadis di ruangan tersebut. Caranya tersenyum, caranya bicara, caranya memainkan garpu di atas piring pastanya, semuanya menarik di mata pria itu. Tidak ada yang lebih indah dari binar kedua mata cokelat milik Jung Hwa saat menceritakan kisah hidupnya. Saat gelora dan detak jantung pria itu semakin terpacu, pada saat itu juga semuanya harus padam. Realita begitu kejam pada pria itu. Satu-satunya sosok perempuan yang dia inginkan harus berakhir menjadi kekasih sahabatnya. Myung Soo tidak ingin mempercayai bahwa Jung Hwa, gadis yang selama tiga tahun mengisi hatinya, resmi menjadi kekasih Sung Yeol sejak enam bulan yang lalu.

Ia tidak bisa percaya bahwa dengan mudahnya Sung Yeol dapat berkenalan dan menjalin hubungan dengan Jung Hwa. Ia juga mengutuk dirinya yang tidak pernah berani mendekati perempuan itu hingga akhirnya direbut oleh sahabatnya sendiri. Tidak satu dua kali Myung Soo mencoba membunuh perasaannya, namun hal itu tidak pernah berhasil. Satu senyuman dari Jung Hwa langsung membuat gerak refleks aliran darahnya yang berdesir.

Tangannya mengepal kuat, jari-jarinya hampir merobek kulit tangannya saat Sung Yeol mengusap puncak kepala Jung Hwa di hadapan Myung Soo. Sahabat atau bukan, dia harus menyelesaikan masalah ini secepatnya. Sebelum dia menjadi benar-benar gila.

**************

Semua orang bekerja sama untuk merapikan meja dan membersihkan piring-piring kotor, walaupun kelihatannya Sung Yeol lebih banyak mencipratkan air ke wajah teman-temannya daripada membilas piring. “Ada yang bisa kubantu lagi?” tanya Sung Yeol kepada Jung Hwa yang kini merengutkan keningnya.

“Apakah kau membantuku daritadi? Yang aku lihat kau hanya bermain-main dan membuat baju Woo Hyun oppa basah kuyup,” ucap gadis itu sambil mengelap piring terakhir dan menaruhnya di rak.

Sung Yeol terkekeh geli dan mendekati gadisnya. “Kali ini aku bertanya serius, apakah tidak ada lagi yang bisa ku bantu?”

Jung Hwa menggeleng, “Kalian siapkan saja film yang akan kita tonton. Aku akan membuat popcorn,” ucapnya sambil mendorong kekasihnya menjauhi dapur. Setelah yakin bahwa tidak akan ada yang mengganggunya, Jung Hwa menghela nafas dan menyandarkan tubuhnya. Sekelibat wajah hadir di dalam pikirannya. Ia menggeleng singkat untuk membuang jauh-jauh bayangan wajah itu. “Berhenti memikirkannya Heo Jung Hwa,” bisiknya untuk meyakinkan diri sendiri. Setelah termenung cukup lama, gadis itu memutuskan untuk mulai membuat popcorn. Ia membuka satu bungkus dan memanaskannya di microwave.

“Heo Jung Hwa,” sebuah suara mengagetkan dirinya. Ia menoleh ke belakang dan disambut dengan tatapan tajam dari laki-laki yang tidak ingin ditemuinya. Myung Soo menyederkan badannya di pintu dapur, kedua tangannya terlipat di depan dada serta wajahnya menatap gadis itu.
Jung Hwa berusaha untuk berdiri tegak. “Myung Soo… oppa… Sedang apa kau di sini? Ke.. Kenapa kau tidak bergabung dengan yang lain?” Laki-laki itu tidak menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Jung Hwa. Ia malah melangkahkan kakinya perlahan, mencoba untuk mendekati gadis itu. Jung Hwa yang bingung akan tingkah laku Myung Soo secara otomatis melangkah mundur. Secara tidak langsung, aura dari pria itu sangat mengintimidasi, seperti seekor singa yang hendak mencengkeram mangsanya.

“Oppa, apa yang kau lakukan?” ucap Jung Hwa saat menyadari bahwa punggungnya telah menyentuh lemari pendingin. Myung Soo tetap tidak mengeluarkan kata-kata, ia semakin mendekat dan tak lama kemudian berdiri tepat di hadapan Jung Hwa. Kini tubuh mereka hanya berjarak kurang dari 30 cm. Dengan gerakan cepat, Myung Soo mengunci badan gadis itu dengan kedua tangannya, menutup seluruh akses Jung Hwa jika ia ingin kabur darinya.

Debaran jantung Jung Hwa kini mungkin lebih kencang dari suara popocorn yang sedang meletup di dalam microwave. Jarak sedekat ini membuat gadis itu tidak berpikir jernih. Keadaan ini memang pernah menajdi mimpi terliarnya, dulu. Sebelum ia bertemu dengan Lee Sung Yeol. “Oppa, apa yang kau lakukan? Berhenti bertindak aneh dan menyingkirlah dariku,” Jung Hwa mengeluarkan suara lemah.

Wajah Myung Soo memerah saat mendengar perkataan dari mulut gadis itu. Dia betul-betul marah melihat penolakan dari Jung Hwa. “Jung Hwa kau benar-benar membuatku gila. Berhentilah bertingkah seakan-akan kau tidak menyukai diriku,” desisnya tajam.

“Aku tidak mengerti ucapanmu, oppa.” Gadis itu mendorong tubuh Myung Soo, namun laki-laki itu tetap tidak bergeming.

Myung Soo mencengkeram kedua bahu Jung Hwa. “Kau sangat mengerti ucapanku. Berhentilah bertingkah seperti ini. Aku tahu kau juga menginginkan diriku, sebesar diriku menginginkanmu. Aku mencintaimu Heo Jung Hwa.” Kedua mata Myung Soo kini menatap gadis itu kalap.

Jung Hwa mendorong pria itu dengan segenap kekuatannya. “Myung Soo oppa! Sadarlah! Aku kekasih sahabatmu. Apa kau tidak memikirkan perasaan Sung Yeol oppa jika dia mendengar ucapanmu?” teriak gadis itu marah. Myung Soo mencengkeram rambutnya frustasi.

“TENTU SAJA AKU MEMIKIRKANNYA! Aku memikirkan Sung Yeol setiap hari, Aku memikirkan persahabatan yang sudah kita lalui sejak kecil. Aku memikirkan perasaanku yang tidak pernah berhenti mencintaimu. Tahukah kau betapa aku membenci diriku sendiri? Tapi yang paling utama, aku memikirkanmu! Aku memikirkan betapa luar biasa senyummu, aku memikirkan tentang betapa hangatnya tanganmu jika aku menggandengnya, aku meikirkan betapa bahagianya diriku jika kau menjadi milikku, bukan milik sahabatku. Aku mencintaimu Heo Jung Hwa, dan aku tahu kau juga mencintaiku.”

Myung Soo kembali mengikis jarak di antara mereka berdua. Tepat sebelum pria itu mencapai tempatnya tiba-tiba suara Sung Yeol mengagetkan mereka. “Apa yang kalian lakukan?” tanya pria itu dengan wajah bingung. “Sepertinya aku mendengar Myung Soo berteriak.”

Jung Hwa menghela nafas lega. Dia berlari ke arah Sung Yeol dan memeluknya. “Kenapa kau?” tanya Sung Yeol halus. Gadis itu menggeleng lemah dan tersenyum. Perkataan Myung Soo tidak salah, wanita ini pernah mencintainya, tapi hatinya kini bukan untuk Myung Soo melainkan untuk sahabatnya. Paling tidak Sung Yeol memperjuangkan cintanya dan hanya itu yang diinginkan oleh Jung Hwa. Tidak seperti Myung Soo yang tidak pernah mendekatinya, selama apapun di menunggu.

“Tidak ada apa-apa Sung Yeol oppa,” ujar gadis itu sambil menarik Sung Yeol menjauh dari dapur, menjauh dari sosok Myung Soo yang kini tengah kalut. Kedua kakinya tidak dapat menopang berat tubuhnya. Ia jatuh begitu saja di lantai, bersamaan dengan air mata yang mengucur deras dari pelupuk matanya. Dia baru saja kehilangan wanita yang dicintainya. Hatinya yang sesak membuat pria itu tidak berhenti mengerang kesakitan dalam tangisnya. Ia tidak tahu bagaimana menghadapi hidupnya dengan luka menganga di di hatinya.

“Aku mencintaimu…. Heu Jung Hwa. Sangat mencintaimu.”

TAMAT

Advertisements

2 thoughts on “I Know You Want Me Too

  1. Dan aku tersakiti abis baca ini, sangat 😭😭😭😭
    Annyeong author… Aku panggil eonni aja boleh yaa??, heheh salam kenal…
    Btw ff eonni keren bet!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s